MITRA TV LAMPUNG. COM
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
Disatu sudut pesantren ternama tampak dari kejauhan dua orang yang satu tidak muda lagi, sementara seorang lagi usianya tampak lebih muda; sedang berbicara; yang sudah tidak muda lagi tampak sangat tenang, sementara lawan bicaranya kelihatan sangat gelisah. Percakapan mereka berdua sayup terdengar demikian; “Guru…” yang lebih muda berdiri merapat kepada seorang yang lebih tua berkata, suaranya bergetar,: “mengapa hidup seakan terus melemparkan cobaan? Mereka yang dekat denganku pergi satu per satu karena sakit, dan yang tersisa kini diuji lagi. Aku merasa lelah, Guru. Tenagaku berkurang, nafkahku sudah menipis. Apakah aku sedang dipalingkan oleh Tuhan?”
Sang kiai yang ada dihadapan menatapnya dengan penuh belas kasih. “Begini kalau menurut saya, ujian bukan selalu tanda kemurkaan. Kadang itu adalah cara Tuhan mengangkat derajat kita. Ketika kita merasa paling rapuh, justru di situlah Tuhan paling dekat.” Sang Santri menyergah, maaf guru; “Tapi bagaimana aku melangkah, ketika hidup terasa berat dan aku sendiri pun sudah mulai renta?”
“Kita tidak diminta menjadi kuat sendirian,” jawab sang kiai lembut. “Kita hanya diminta bersandar. Ridha bukan berarti kalah, tetapi menerima kenyataan sambil tetap berjalan. Setiap langkah kecil yang kita ambil, meski terseok, tetap dicatat sebagai ibadah.” Santri itu mengangkat wajahnya perlahan. “Jadi… aku masih punya harapan?”. “Ada,” kata sang kiai. “Selama kita mau bersabar, berdoa, dan terus berbuat baik yang mampu kita lakukan, Tuhan tidak akan meninggalkan kita. Ingat, berat yang kita sandang itu bukan untuk menghancurkan kita, tetapi untuk menguatkan hati kita.” Santri itu mengangguk perlahan sekalipun tampak masih letih, tetapi kini tak lagi sendirian.
Hidup sering membawa manusia pada tikungan-tikungan tajam kehidupan yang tidak pernah di duga sebelumnya. Ada saat ketika seseorang merasa telah melalui badai terberat, namun tak lama kemudian gelombang baru datang menyapu, meninggalkan ketegangan di hati dan lelah di tubuh. Kehilangan orang terdekat karena penyakit berat, lalu diuji kembali dengan kondisi orang yang berposisi serupa juga mengalami sakit serius, menjadi rangkaian cobaan yang terasa seperti tak berujung. Sementara itu, masa pensiun tiba, tenaga tak lagi sekuat dulu, dan keuangan semakin menipis. Namun di tengah semua itu, seseorang tetap memilih untuk ikhlas dan ridha. Dari sinilah perjalanan batin manusia menemukan kedalaman maknanya.
Dalam tinjauan filsafat manusia, hidup bukan sekadar rangkaian peristiwa, tetapi pengalaman yang menuntut penafsiran. Manusia tidak hanya mengalami kenyataan; ia merenungkan, menimbang, dan mencari makna dari setiap peristiwa yang menimpanya. Ketika kehilangan datang, ketika penderitaan menghampiri, ketika kekuatan fisik dan materi menurun, manusia dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang membukakan ruang refleksi yang sangat dalam. Pada momen ini, manusia menemukan dirinya sebagai makhluk yang rapuh sekaligus kuat.
Kerapuhan manusia bukanlah kelemahan, melainkan ciri hakiki keberadaannya. Hidup selalu mengingatkan bahwa manusia tidak memegang kendali penuh atas dunia dan tubuhnya sendiri. Penyakit, kematian, dan keterbatasan usia adalah bagian dari hukum alam yang tidak dapat ditawar. Namun sisi lain dari kerapuhan itu adalah kemampuan untuk bangkit, tertegun, lalu melangkah kembali. Manusia memiliki kekuatan internal yang sering kali baru tampak ketika semua pijakan luar mulai goyah.
Ketika seseorang kehilangan figur yang sangat dekat dengannya, dan penyambungnyapun sedang menderita penyakit serius, ia tidak hanya ditinggalkan oleh sosok yang ia sayangi, tetapi juga sekaligus kekhawatiran akan kehilangan untuk kedua kalinya; ini semua adalah bagian dari dirinya sendiri. Kenangan, rutinitas, dan harapan yang pernah dirancang bersama bisa saja runtuh dalam sekejap. Namun manusia memiliki ruang sunyi dalam dirinya, tempat ia menyimpan kekuatan untuk pulih. Dari ruang itu, ia belajar menerima bahwa kehilangan adalah bagian dari keberadaan. Ia merawat luka itu perlahan, sampai akhirnya luka menjadi bagian dari sejarah dirinya, bukan sebagai beban, tetapi sebagai guratan yang memperkaya jiwanya.
Sikap ikhlas dan ridha bukanlah tanda menyerah. Itu adalah bentuk tertinggi dari kebijaksanaan manusia. Ikhlas berarti menerima bahwa realitas tidak selalu selaras dengan keinginan. Ridha berarti menyambut kenyataan itu tanpa amarah pada dunia. Dalam tinjauan filosofis, menerima hidup apa adanya adalah tindakan keberanian, sebab hanya mereka yang kuatlah yang mampu menerima kenyataan tanpa kehilangan harapan.
Manusia juga menemukan bahwa penderitaan tidak selamanya gelap. Di dalamnya ada cahaya kecil yang menuntun seseorang untuk memahami dirinya dengan cara yang lebih jujur. Cahaya itu mungkin berupa ketenangan batin saat berserah, atau kemampuan untuk tetap mencintai meski berkali-kali terluka. Cahaya itu adalah kesadaran bahwa langkah yang terus ia ambil, betapapun beratnya, adalah langkah yang penuh nilai.
Pada akhirnya, manusia bukan dinilai dari berapa banyak kemudahan yang ia dapatkan dalam hidup, tetapi dari bagaimana ia menghadapi kesulitan. Seseorang yang tetap tegar meski dilanda kelelahan, tetap peduli meski diuji kenyataan, dan tetap yakin meski dunia tampak gelap, adalah manusia yang telah mencapai kedewasaan batin yang tidak dimiliki oleh semua orang.
Perjalanan ini bukanlah perjalanan yang mudah. Namun ia adalah perjalanan yang menjadikan seseorang lebih dalam, lebih bijak, dan lebih manusiawi. Dalam penderitaan, ia menemukan kekuatannya. Dalam keterbatasan, ia menemukan makna. Dan dalam keikhlasan, ia menemukan kedamaian yang tidak dapat diberikan oleh dunia; dan, hanya oleh hatinya sendiri.
Salam Waras
Tulis Komentar