Keterangan Gambar : Penanaman 5.000 Mangrove oleh KOPRI PB PMII Bid Lingkungan Hidup Pesawaran, di Cuku Nyinyi (mitra)
MITRA TV LAMPUNG.COM -
Pesawaran.
Gerakan lingkungan bertajuk KOPRI Eco Movement 2025 yang digagas KOPRI PB PMII Bidang Lingkungan Hidup mendapat sambutan positif dari Pemerintah Kabupaten Pesawaran. Kegiatan penanaman 5.000 bibit mangrove dan talkshow lingkungan tersebut digelar pada Sabtu, (29/11/25), di kawasan Mangrove Cuku Nyinyi, Desa Sidodadi, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran.
Acara yang menjadi rangkaian Harlah KOPRI ke-58 serta pelaksanaan Small Grant Folu Biodiversity ini turut dihadiri Bupati Pesawaran Hj. Nanda Indira B., SE., MM, perwakilan Gubernur Lampung dari Dinas Kehutanan Awal Budiantoro, S.Hut., M.Eng, serta sejumlah kepala dinas dari berbagai sektor di lingkungan Pemerintah Provinsi dan Kabupaten Pesawaran. Selain itu hadir pula elemen masyarakat, pegiat lingkungan, KOPRI PC PMII Lampung, serta Ketua Bidang Lingkungan Hidup KOPRI PB PMII Siti Maysaroh.
Dalam sambutannya, Bupati Pesawaran mengapresiasi inisiatif KOPRI yang dinilai membawa manfaat jangka panjang bagi perlindungan ekosistem pesisir. Ia menegaskan bahwa penanaman mangrove merupakan langkah strategis dalam menjaga kestabilan wilayah pesisir yang semakin rentan terhadap abrasi.
“Lakukan hal kecil, insya Allah membawa manfaat. Saya yakin berbuat baiklah kita, Bu. Nanti mungkin investasi kita, yang merasakan mungkin cucu-cucu kita,” ujar Nanda Indira.
Ia menambahkan bahwa mangrove memiliki potensi besar dalam menjaga stabilitas air laut, menahan abrasi, serta menjadi pengolah limbah beracun penghasil oksigen dan penyerap CO₂.
Menurutnya, berkurangnya kawasan mangrove harus menjadi perhatian bersama. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pegiat lingkungan agar kawasan pesisir tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga berfungsi sebagai zona hijau yang melindungi garis pantai Pesawaran yang langsung berbatasan dengan laut.
“Ini adalah salah satu langkah yang baik. Kita perlu bekerja sama memperhatikan kawasan mangrove dan memberdayakannya. Selain menjadi tempat wisata, kawasan ini harus benar-benar menjadi ruang hijau untuk menahan abrasi,” lanjutnya.
Sementara itu, perwakilan Gubernur Lampung, Awal Budiantoro, menekankan bahwa gerakan tersebut merupakan bagian dari upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Pelaksanaan Small Grant Folu Biodiversity periode ketiga juga merupakan sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap inisiatif lingkungan berbasis komunitas.
“Kolaborasi seperti inilah yang membuat Lampung makin kuat. Mangrove bukan sekadar pohon pesisir; akarnya adalah benteng alami yang meredam gelombang dan mengurangi risiko banjir rob,” ungkapnya.
Ketua Bidang Lingkungan Hidup KOPRI PB PMII, Siti Maysaroh, menyampaikan bahwa kerja restorasi mangrove membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Ia menjelaskan bahwa talkshow lingkungan yang digelar dalam rangkaian kegiatan dimaksudkan untuk membuka ruang diskusi mengenai peran perempuan, pemuda, masyarakat, dan pemerintah dalam isu ekologis.
“Mangrove bagi pantai adalah pelindung keanekaragaman hayati. Penting ada ruang diskusi agar gerakan ini bisa diperkuat lintas komunitas,” ujarnya.
Dengan penanaman 5.000 bibit mangrove ini, KOPRI PB PMII melalui bidang lingkungan hidup menegaskan komitmennya mendukung pelestarian lingkungan dan meningkatkan ketahanan ekosistem pesisir di Lampung melalui gerakan kolaboratif bersama pemerintah dan masyarakat.
(uta/dra)
Tulis Komentar