MITRA TV LAMPUNG. COM
Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
Sudah menjadi rutinitas setiap hari setelah selesai Sholat Ashar, para santri menghafalkan surah-surah yang ditugaskan untuk dihafal oleh para Mentornya (santri senior), sampai menjelang Magrib. Salah seorang mentor diantaranya menghadap Kiai dengan penuh takzim, dan berucap: “Yai,” membuka percakapan sambil merapikan duduknya, “saya sering bertanya-tanya, kenapa ada hal yang sudah saya perjuangkan lama justru hilang begitu saja.” Kiai itu tersenyum tipis, menatap halaman yang mulai temaram menjelang magrib. “Apa yang kamu rasakan ketika hal itu pergi?”
“Kecewa,” jawab santri itu jujur. “Seperti usaha saya tidak ada artinya.” Kiai mengangguk pelan. “Lalu, apakah semua yang kamu inginkan selama ini benar-benar membuatmu tenang?”. Santri itu terdiam sejenak, dan sejurus kemudian sambil menggelengkan kepala menjawab. “Tidak selalu, Yai. Ada juga yang saat saya dapatkan, ternyata terasa kosong.”
Kiai mengambil napas panjang. “Hidup tidak selalu tentang menggenggam. Ada kalanya Alloh mengajari kita lewat kehilangan.”. “Tapi bagaimana dengan harapan, Yai? Bukankah kita diajarkan untuk berikhtiar?” tanya santri itu lagi.
“Benar,” jawab sang Kiai lembut. “Ikhtiar itu kewajiban, hasil bukan hak kita. Yang bukan bagianmu akan pergi meski kamu mengejarnya. Dan, yang memang ditujukan untukmu, akan datang meski jalannya berliku.” Santri itu menunduk, mencerna kata-kata tersebut. “Jadi tugas saya hanya berjalan dan percaya?”
“Bukan hanya percaya,” ujar Kiai sambil tersenyum, “tetapi juga belajar ikhlas saat dilepas, dan siap saat diberi. Dan, segala sesuatu yang tidak ditakdirkan untukmu akan menemukan caranya untuk hilang, dan sebaliknya yang ditakdirkan untuk mu akan menemukan caranya untuk datang”,
Kalimat itu menusuk sekali ke sanubari Santri tadi; karena terdengar sederhana namun menyimpan kedalaman yang relevan dengan kehidupan ini. Di tengah dunia yang bergerak cepat, penuh pilihan, dan dipenuhi ilusi kendali, gagasan ini mengajak kita berhenti sejenak untuk menimbang ulang hubungan antara usaha, kebetulan, dan makna.
Wejangan Kiai tadi berlanjut, ringkasnya demikian. Zaman kini menempatkan manusia dalam pusaran keputusan yang tak ada habisnya.
Algoritma menawarkan peluang, layar menampilkan perbandingan, dan narasi sukses sering disederhanakan menjadi hasil dari kerja keras semata. Dalam lanskap seperti ini, kehilangan sering dianggap kegagalan, dan menunggu dipersepsikan sebagai kelemahan. Padahal, pengalaman hidup justru menunjukkan bahwa ada hal-hal yang kita kejar dengan sepenuh tenaga namun tetap menjauh, dan ada pula hal-hal yang datang tanpa pernah kita rencanakan. Bukan karena kurang usaha, melainkan karena ada batas yang tak bisa ditembus oleh kehendak.
Memahami “yang hilang” sebagai bagian dari takdir bukan berarti menyerah pada pasrah yang pasif. Ini adalah pengakuan atas kenyataan bahwa tidak semua hal perlu dipertahankan. Hubungan yang melelahkan, ambisi yang menggerogoti kesehatan, atau identitas yang dipaksakan demi pengakuan; semuanya bisa saja pergi meski kita menggenggam erat. Dalam konteks kekinian, melepaskan menjadi tindakan berani. Ia menuntut kejujuran untuk mengakui bahwa mempertahankan sesuatu yang tidak selaras hanya akan menunda pertumbuhan.
Sebaliknya, “yang datang” sering muncul saat kita berhenti memaksa. Kesempatan yang terasa tepat waktunya, pertemuan yang mengubah arah, atau pemahaman baru tentang diri sendiri; semua itu kerap hadir ketika kita sudah cukup siap, bukan ketika kita paling menginginkannya. Dunia modern mengajarkan percepatan, namun “makna” sering membutuhkan tempo yang berbeda. Datangnya sesuatu yang ditakdirkan bukanlah kebetulan kosong; ia adalah hasil pertemuan antara kesiapan batin, konteks yang matang, dan keberanian untuk menerima.
Sudut pandang kontemporer mengajak kita membaca takdir bukan sebagai garis lurus yang kaku, melainkan sebagai arus. Kita tetap berenang, memilih arah, dan mengerahkan tenaga, namun arus memiliki perannya sendiri. Ketika kita melawan arus tanpa henti, kelelahan datang lebih cepat. Ketika kita belajar membaca arus, kita bergerak lebih jauh dengan tenaga yang sama. Ini bukan soal berhenti berusaha, melainkan soal kebijaksanaan dalam mengarahkan usaha.
Di era kesehatan mental yang semakin diperbincangkan, gagasan ini memberi ruang untuk bernafas. Ia membebaskan dari beban untuk “selalu berhasil” dan membuka pintu bagi penerimaan. Kehilangan tidak lagi semata luka, melainkan sinyal. Kedatangan tidak lagi sekadar hadiah, melainkan amanah. Dengan cara ini, hidup tidak diukur hanya dari apa yang kita capai, tetapi dari bagaimana kita merespons perubahan.
Akhirnya, kalimat tersebut bukan pembenaran untuk pasif, juga bukan dalih untuk menghindari tanggung jawab. Ia adalah undangan untuk hidup dengan keseimbangan: bekerja keras tanpa menggenggam berlebihan, berharap tanpa memaksa, dan menerima tanpa menyerah.
Dalam keseimbangan itulah, yang pergi akan pergi dengan tenang, dan yang datang akan datang dengan makna. Terakhir Kiai menutup wejangannya dengan kalimat kunci: “Di tengah hiruk-pikuk zaman, mungkin kebijaksanaan terbesar adalah percaya bahwa hidup tahu caranya sendiri untuk menata kita, selama kita bersedia mendengar dan melangkah, tanpa itu hidup akan menjadi hampa, bahkan tanpa tujuan”.
Salam Waras
Tulis Komentar